
Salah satu hama yang banyak ditemui menyerang tanaman padi adalah penggerek batang. Ciri-ciri tanaman padi yang terserang hama ini dapat dilihat dari bulir padi yang tiba-tiba menguning dan rapuh, lalu terlihat ulat-ulat kecil yang menggerogoti pangkal batang tanaman padi.
Saat ini, terdapat beberapa jenis hama penggerek batang padi, namun yang paling sering ditemui adalah jenis penggerek batang kuning (Scirpophaga incertulas) dan penggerek batang putih (Scirpophaga Innotata).


Penggerek batang padi menyerang dalam bentuk sundep dan beluk.
Gejala:
- Sundep menyerang ditandai dengan daun padi menguning dan tergulung, serta tunas padi menjadi rapuh dan mudah dicabut.
- Sedangkan beluk menyerang ditandai dengan tangkai bunga padi (malai) berwarna putih, mudah dicabut dan terlepas, jika dibiarkan bulir padi bisa menjadi kosong.
- Serangan penggerek batang diawali dengan ngengat penggerek batang dewasa yang bertelur pada batang atau daun tanaman padi pada malam hari.
- Setelah itu, telur akan menetas menjadi larva (ulat) yang akan mulai menyerang dan menggerogoti tanaman padi hingga pangkal batang padi sehingga mengakibatkan kerusakan pada tanaman padi.
Cara mengatasi hama penggerek batang:
- Jaga kebersihan lingkungan area tanam.
- Percepat persiapan pengolahan tanah area tanam.
- Lakukan persemaian secara berkelompok.
- Lakukan penanaman secara serempak atau bersamaan.
- Pasang perangkap serangga atau ngengat.
- Jika diperlukan, gunakan pestisida atau insektisida pada benih tanaman yang menunjukkan ciri-ciri terserang sundep hama penggerek batang. Tetapi bila gejala terserang sundep hama penggerek batang makin terlihat, sebaiknya segera musnahkan tanaman yang terserang.
Pemakaian pestisida atau insektisida sebaiknya dilakukan setelah memperhatikan apakah serangan hama masih bisa dikendalikan atau tidak. Namun, apabila serangan hama penggerek batang sudah berbentuk beluk, sebaiknya lakukan pencabutan tanaman padi untuk mengurangi area serangan agar tidak semakin luas.
Sumber: nuansatani.com
Wereng batang cokelat adalah salah satu hama tanaman padi yang memiliki dampak hebat karena dapat mengakibatkan gagal panen, sehingga hama jenis ini banyak ditakuti oleh para petani. Hama ini dapat berkembang biak dengan cepat, sehingga mudah menyerang tanaman dalam area yang luas. Hama wereng batang cokelat merusak tanaman padi dengan cara menghisap cairan batang padi. Selain itu, wereng batang cokelat juga merusak daun padi dan menyebabkan tanaman padi tumbuh kerdil, serta bulir padi menjadi kosong atau tidak berisi.

Gejala:
- Telur wereng biasanya ditemukan pada pangkal daun hingga tulang daun dan akan menetas menjadi nimfa (wereng muda) dalam 7 hingga 10 hari.
- Setelah kurang lebih 12 hari, nimfa tumbuh menjadi wereng dewasa.
- Wereng batang cokelat biasanya tumbuh dan berkembang pada tanaman padi yang berumur 2 atau 3 minggu setelah masa tanam dimulai.
- Hama ini bisa juga menyerang tanaman padi yang berumur 5-10 minggu setelah masa tanam.
Pengecekan terhadap hama wereng harus dilakukan secara rutin, minimal 3 hari sekali. Apabila ciri-ciri serangan muncul, dapat dilakukan pengendalian dengan pestisida baik yang alami maupun yang berbahan kimia.
Cara pengendalian dan pencegahan hama wereng batang coklat:
- Penanaman padi dilakukan secara serentak dalam areal luas.
- Gunakan jenis atau varietas tanaman padi yang tahan dengan serangan hama wereng coklat.
- Memasang lampu perangkap untuk menangkap hama wereng dalam kelompok besar.
- Setelah mengeringkan area tanam atau sawah, lakukan penyemprotan insektisida/pestisida.
- Penyemprotan dapat dilakukan pada pagi hari saat matahari bersinar cerah sekitar jam 8:00 pagi, dan dapat juga dilakukan pada sore hari.
- Insektisida harus digunakan hingga batang padi, bahkan bisa diberikan berulang hingga akar tanaman jika dirasa kurang berhasil.
- Pemakaian pestisida atau insektisida dilakukan dalam waktu kurang dari 30 hari setelah gejala serangan dimulai, yakni saat wereng muda karena jika wereng telah dewasa maka pembasmian hama tidak akan tuntas dan maksimal. Selain itu, sebaiknya pilih insektisida yang memiliki kandungan aktif pymetrozine dan dinotefuran, dan jangan digunakan dalam jangka waktu lama.
- Lakukan pengecekan atau pengamatan wereng cokelat dilakukan 1-2 minggu sekali.
Sumber: Litbang Jabar
Walang sangit adalah salah satu jenis serangga yang umum dan cukup sering ditemui. Ternyata, walang sangit ini juga merupakan salah satu hama yang banyak menyerang tanaman padi. Serangan hama walang sangit dapat merugikan petani karena dampaknya bisa mengurangi hasil panen berkisar 10-40%, namun pada kasus serangan yang berat oleh walang sangit dengan jumlah tinggi dapat berakibat fatal menurunkan hasil panen hingga 100% atau gagal panen (puso).

Walang sangit biasanya menyerang tanaman padi yang area tanam atau sawahnya terletak tidak jauh dari hutan. Serangan hama walang sangit ini juga dapat terjadi pada tanaman padi yang terlambat tanam.

Gejala:
- Walang sangit menyerang tanaman padi dengan cara menghisap biji padi pada bulir padi yang lunak atau matang susu, hingga bulir yang keras.
- Serangan walang sangit ini tidak terjadi pada masa bunting atau pembungaan.
- Serangan hama walang sangit dapat terjadi sepanjang hari, tetapi waktu serangan yang paling banyak terjadi biasanya saat pukul 05:00-09:00 pagi dan pukul 15.00-19.00 sore hingga malam hari.
Cara pengendalian dan pencegahan walang sangit:
- Bersihkan area tanam dari gulma, di sekeliling tanaman padi hingga ke sekitar pematang karena walang sangit biasanya hidup bersarang dan berkembang biak pada gulma sebelum tanaman padi berbunga,
- Taruh bangkai hewan karena walang sangit tertarik pada bau bangkai. Jika terlihat walang sangit berkumpul di sekitar bangkai, maka dapat disemprot dengan menggunakan insektisida.
- Gunakan insektisida berbahan kimia apabila populasi walang sangit sudah mencapai batas 10 ekor/20 rpn.
Sumber: Litbang
Salah satu hama utama penyebab kerusakan padi adalah tikus sawah. Hama tikus dapat merusak tanaman padi dengan tingkat kerusakan mencapai 20%. Serangan hama tikus sawah terjadi sejak masa persemaian hingga masa panen, dan kurangnya antisipasi pengawasan dan pengecekan terhadap serangan hama tikus mengakibatkan kerugian besar bagi petani.

Pengendalian terhadap hama tikus sawah terasa lebih berat dibandingkan dengan pembasmian jenis hama lainnya. Salah satu penyebabnya adalah karena penanganan terlambat yang dilakukan setelah hama tikus menyerang. Selain itu, kurangnya sarana-prasarana dan peralatan serta penanganan yang tidak dilakukan terus-menerus mengakibatkan pengendalian hama tikus tidak tuntas.
Tindakan pengendalian hama tikus sebaiknya dimulai sejak awal musim tanam, pengolahan lahan, persemaian benih, dan dilakukan secara bersama-sama dan terkoordinir antar petani padi. Pada wilayah yang biasanya selalu terserang setiap musim tanam, dapat dilakukan tindakan pengendalian berkelanjutan kurang lebih pada waktu 2 minggu sebelum dan sesudah masa tanam. Untuk area atau wilayah yang hanya kadang-kadang terserang hama tikus, sebelumnya dapat dilakukan pengecekan pada sarang tikus seperti permukiman, tanggul, pematang untuk memantau sekaligus menekan jumlah tikus agar tidak semakin berkembang. Sebaiknya tidak lupa juga untuk selalu memperhatikan apakah ada tanda-tanda kehadiran tikus, seperti jejak kaki, lubang sarang tikus, dan kerusakan tanaman yang menunjukkan ciri-ciri serangan dimulai.
Cara pengendalian dan pencegahan serangan hama tikus:
- Pembersihan atau sanitasi habitat, gropyok massal, atau pengemposan atau fumigasi massal, penggunaan perangkap plastik atau LTBS, dan pemakaian rodentisida apabila jumlah tikus sangat banyak.
- Perlu diingat bahwa pengumpanan dan penggunaan rodentisida sebaiknya dilakukan pada saat awal tanam.
- Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran.
- Umpan ditempatkan di sarang utama tikus seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, atau tepi perkampungan.
- Lakukan masa tanam dan panen serempak dengan selisih waktu tanam dalam satu hamparan area sawah tidak lebih dari 2 minggu, agar tikus tidak mudah berkembangbiak terus menerus.
Sumber: Litbang
Ulat grayak adalah hama yang menyerang tanaman padi pada semua masa pertumbuhan sehingga banyak merugikan petani. Serangan biasanya terjadi pada malam hari karena pada siang hari ulat grayak bersembunyi pada pangkal tanaman, atau di dalam tanah. Ulat ini memakan helai-helai daun padi dari ujung daun sehingga yang tertinggal hanya tanaman padi tanpa helai daun. Saat tangkai malai padi mulai tumbuh, ulat grayak sering memotong tangkai malai. Bahkan ulat grayak juga menyerang padi yang sudah mulai menguning hingga batang padi yang mulai menguning itu membusuk dan mati sehingga dapat menyebabkan gagal panen.
Serangan hama ulat grayak dimulai dari serangga kupu-kupu atau ngengat dewasa yang bertelur pada tanaman padi pada malam hari, terutama pada lahan sawah yang kering. Tindakan pencegahan dan pengendalian hama ulat grayak dapat diawali dengan melakukan pengamatan awal apabila terlihat kupu-kupu atau ngengat serta adanya telur serangga. Jika ditemui, maka dapat dilakukan tindakan menangkap kupu-kupu dengan menggunakan jaring serta membunuh telur-telur serangga yang dijumpai.
Masa pertumbuhan ulat grayak berkisar 20 hingga 26 hari, namun ulat grayak ini dapat menyerang tanaman pada hampir semua fase pertumbuhan tanaman padi. Setelah 20 - 26 hari, ulat grayak akan berubah menjadi kepompong dan selanjutnya berubah jadi kupu-kupu.
Cara mengendalikan hama ulat grayak antara lain adalah sebagai berikut:
1. Menggunakan insektisida alami berupa ekstrak tanaman yang mempunyai sifat-sifat insektisida, seperti daun dan biji mimba.
2. Melakukan pengecekan secara rutin jika ditemui ciri-ciri atau gejala serangan hama dan penyakit sehingga dapat mengambil tindakan awal seperti penggunaan insektisida ringan yang mengandung bahan aktif: fipronil, betasiflutrin, deltametrin, lamdasihalotrin, alfasipermetrin, dll.
3. Menangkap dan membasmi ulat grayak maupun kepompongnya secara manual.
4. Mengairi sawah jangan sampai kering agar ulat grayak yang bersembunyi di dalam tanah terendam air dan mati.
5. Melakukan penyemprotan dengan insektisida kandungan tinggi pada malam hari jika ulat grayak sudah dewasa dan berjumlah besar.
Sumber: gerbangpertanian.com
Keong mas (Pomacea Canaliculata) merupakan salah satu hama pada tanaman padi, yang biasanya menyerang tanaman padi pada usia muda. Keong mas merusak tanaman padi dengan cara memakan hampir semua bagian tanaman padi, mulai dari batang, daun, hingga akar. Serangan hama keong mas pada area tanaman padi muda di sawah dapat terjadi dalam waktu satu malam saja, sehingga memberi dampak yang merugikan bagi para petani.

Gejala:
- Keong mas biasanya meletakkan telurnya pada batang tanaman padi, atau di pinggiran area sawah seperti di pembatas atau di batang kayu.
- Keong mas dapat berkembangbiak dan tumbuh dengan cepat, kurang lebih dalam waktu sekitar 45-50 hari untuk tumbuh dewasa.
Cara mengendalikan dan mencegahan serangan hama keong mas :
- Membuat saluran air atau parit di pinggiran pematang pada petak sawah untuk mencegah serangan hama keong mas makin meluas. Tindakan ini dilakukan saat pengolahan lahan dan sebelum bibit padi ditanam atau. Hal ini bertujuan agar keong mas berkumpul di saluran parit sehingga mudah untuk dibasmi.
- Melakukan pengairan berselang-seling untuk mengurangi penyebaran jumlah keong mas, karena pada saat sawah kering, keong mas tidak bisa berkembangbiak.
- Mengambil keong mas dan telurnya secara manual satu per satu dari area penanaman atau sawah, menggunakan jaring maupun tangkap tangan.
- Melepas bebek sebagai musuh alami keong mas.
- Menggunakan pestisida sebagai cara terakhir jika jumlah keong mas tidak terkendali. Pestisida yang digunakan bisa yang bersifat alami seperti umbi gadung maupun pestisida berbahan kimia.
Sumber: sampulpertanian.com
Penyakit blas adalah salah satu penyakit tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Dulu, penyakit ini menyerang area pertanaman padi gogo, tetapi sekarang sudah menyebar dan juga menyerang tanaman padi yang ditanam di lahan sawah irigasi. Jamur P. grisea penyebab penyakit blas menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Mula-mulai, P. grisea menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala berupa bercak coklat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas meluas hingga tangkai/leher malai disebut blas leher. Apabila semakin parah, serangan penyakit blas dapat mencapai bagian gabah, sehingga jamur penyebab penyakit ini dapat menurun dalam gabah yang menjadi benih (seed borne).

Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, tekek (Jawa Tengah), atau kecekik (Jawa Barat). Selain menyerang tanaman padi, penyakit blas juga dapat menyerang tanaman lain seperti gandum, sorgum dan spesies rumput-rumputan. Penyakit blas ini bila berkembang pesat dapat menurunkan hasil panen karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai dan bulir padi terganggu hingga bisa menjadi hampa, bahkan penyakit blas ini dapat menyebabkan kematian tanaman hingga menyebabkan gagal panen atau puso, seperti yang terjadi di Lampung dan Sumatera Selatan.
Gejala & Penyebab:
- Siklus penyakit blas memakan waktu sekitar 1 minggu, dimulai ketika spora jamur menginfeksi dan menghasilkan bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika jamur menghasilkan spora baru yang siap disebarkan ke udara.
- Satu bercak jamur dapat menghasilkan ratusan sampai ribuan spora dalam satu malam dan dapat terus menghasilkan spora selama lebih dari 20 hari.
- Penyakit blas biasanya berkembang pada kondisi periode embun yang panjang, kelembaban yang tinggi, dan temperatur malam hari sekitar 22–25 Celcius.
- Pemakaian pupuk nitrogen berlebihan, dan tanah yang stres kekeringan dapat memacu timbulnya penyakit blas.
Langkah-langkah pengendalian Penyakit Blas dapat dilakukan dengan penerapan Teknik Budidaya, sebagai berikut:
1. Penanaman Benih Sehat
Jamur penyebab penyakit blas dapat ditularkan melalui benih, sehingga penanaman dengan benih yang pernah terinfeksi penyakit blas tidak dianjurkan. Apabila ingin menggunakan benih yang diduga pernah terinfeksi, perlu dilakukan kelulusan uji sertifikasi benih. Selain itu, perlu dilakukan pengobatan benih dengan fungisida sistemik dengan dosis formulasi 3-5 g/kilogram benih. Proses pengobatan benih ini dapat dilakukan dengan cara perendaman benih atau pelapisan benih dengan fungisida tersebut.
2. Perendaman (Soaking) Benih
Proses perendaman benih diawali dengan perendaman benih dalam larutan fungisida selama 24 jam, dan diaduk merata setiap 6 jam. Perbandingan berat benih dan volume air adalah 1:2 (1 kg benih direndam dalam 2 liter air larutan fungisida). Benih yang telah direndam dikeringkan dengan cara dianginkan dalam suhu kamar di atas kertas, lalu dibiarkan sampai benih gabah tersebut siap disemai.
3. Pelapisan (Coating) Benih
Proses pelapisan benih pertama-tama diawali dengan merendam benih dalam air selama beberapa jam, kemudian ditiriskan sampai air benar-benar tidak menetes lagi. Fungisida dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih yang masih basah tersebut, lalu diaduk hingga merata. Setelah itu, benih gabah tersebut dikeringkan dengan cara diangin-anginkan dengan cara yang sama dengan metode perendaman, hingga siap disemaikan.
4. Cara Tanam
Pengendalian penyakit blas dapat dilakukan dengan pengaturan Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau sistem legowo agar kondisi lingkungan tidak menguntungkan bagi jamur penyebab penyakit. Dapat juga didukung dengan cara pengairan berselang-seling (intermittent) untuk mengurangi kelembaban di area sekitar tanaman, mengurangi embun dan air, serta menghindari gesekan antar daun. Penanaman yang terlalu rapat dapat menciptakan kondisi suhu dan kelembaban yang menguntungkan bagi perkembangan penyakit blas dan juga akan mempermudah penularan dari satu tanaman ke tanaman lain.
5. Pemupukan
Pupuk nitrogen berpengaruh terhadap serangan penyakit blas, pupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan dan serangan yang terjadi dapat menjadi lebih parah. Sebaliknya penggunaan pupuk kalium menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit blas. Oleh karena itu, sebaiknya gunakan pupuk nitrogen dan kalium secara berimbang.
6. Penanaman Varietas Tahan.
Cara yang paling efektif untuk pencegahan dan pengendalian penyakit blas adalah menggunakan varietas tahan. Beberapa varietas padi yang tahan terhadap penyakit blas di antaranya adalah Inpari 21, Inpari 22, Inpari 26, Inpari 27, Inpago 4, Inpago 5, Inpago 6, Inpago 7, dan Inpago 8. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penggunaan varietas tahan adalah dengan tidak menanam padi dengan hanya menggunakan 1 atau 2 varietas saja secara terus menerus.
7. Penggunaan Fungisida untuk Penyemprotan Tanaman
Pengobatan benih dengan fungisida hanya bertahan selama 6 minggu, sehingga tetap perlu dilakukan penyemprotan tanaman. Penyemprotan dengan fungisida sebaiknya dilakukan 2 kali pada saat tanaman padi anakan dan awal berbunga.
Selain tindakan pengendalian di atas, dapat juga dilakukan langkah-langkah pencegahan serangan penyakit blas, yaitu:
1. Sanitasi Lingkungan
Menjaga kebersihan lingkungan sawah dari gulma dan membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi sangat dianjurkan untuk mencegah terjadinya serangan penyakit blas.
2. Pemberian kompos jerami
Pemakaian bahan organik berupa kompos jerami sisa panen dapat dilakukan karena pengkomposan jerami dapat menyebabkan miselia dan spora jamur penyebab penyakit blas mati.
Selain tindakan pengendalian dan pencegahan yang diuraikan di atas, petani juga sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut, yakni:
- Hindari masa tanam padi terlambat daripada tanaman petani di sekitarnya.
- Pengobatan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 30 hari setelah sebar.
- Penyemprotan fungisida sebaiknya dilakukan paling tidak selama 2 kali pada masa tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher .
Sumber: Litbang
Penyakit bercak cokelat pada tanaman padi disebabkan oleh Jamur Helminthosporium oryzae atau bisa juga disebabkan oleh jamur jenis Drechslera oryzae. Penyakit bercak cokelat ini biasanya menyerang tanaman padi melalui angin, sisa tanaman padi yang mengering, dan bisa juga tertular dari benih padi yang terinfeksi sebelumnya. Selain itu, penyakit ini juga bisa menular dari gulma yang tumbuh di sekitar area tanaman padi, terutama gulma jenis Leersia sp, Cynodon sp, Digitaria sp.

Gejala:
- munculnya banyak bercak berukuran hingga 1 cm terutama pada daun, namun juga bisa ditemui pada tangkai, malai bulir, hingga batang.
- Bercak muda berbentuk bulat atau lonjong (oval) kecil berwarna cokelat gelap, sedangkan bercak yang sudah tua berwarna cokelat dengan warna abu-abu di bagian tengahnya.
- Bercak yang timbul pada daun mempunyai bentuk hampir serupa dan merata pada hampir seluruh permukaan daun dan biasanya dikelilingi warna kekuningan di sekitar area bercak berkumpul.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bercak cokelat ini antara lain adalah:
- Penanaman menggunakan varietas yang tahan
- Menggunakan benih yang sehat
- Pemupukan seimbang dengan pemberian pupuk yang memiliki unsur Kalium (K) yang cukup.
- Sanitasi lahan atau pembersihan lahan dari gulma.
- Pengolahan tanah yang sempurna.
- Mengatur pengairan dan saluran air (drainase) dengan baik sehingga akar tanaman padi dapat tumbuh sempurna.
- Menerapkan penanaman sistem legowo atau mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat
- Menggunakan fungisida sebagai pengobatan atau perlakuan benih (seed treatment) dan di masa tanam. Jenis fungisida yang dianjurkan adalah yang berbahan aktif mankozeb, ziram, klorotalonil, dan tembaga hidroksida sebagai pencegah.
Sumber: gerbangpertanian.com
Penyakit Tungro adalah penyakit pada tanaman padi yang disebabkan oleh virus tungro yang biasanya terjadi pada fase pertumbuhan akar, batang, daun (fase vegetatif) dan menyebabkan tanaman padi tumbuh kerdil serta mengurangi jumlah anakan. Virus tungro yang menyerang tanaman padi ini dibawa dan disebar oleh jenis atau spesies serangga wereng hijau Nephotettix malayanus dan N.virescens.

Gejala:
- Pelepah dan helaian daun memendek dan daun menjadi berwarna kuning dan jingga.
- Pada daun yang masih muda, gejala yang timbul adalah daun terlihat memiliki pola lurik atau muncul garis-garis berwarna hijau pucat atau putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun.
- Menyerang mulai dari ujung daun yang lebih tua hingga ke daun yang lebih muda.
- Daun yang menguning akan berkurang apabila daun yang lebih tua terinfeksi lebih dulu.
Penyakit tungro pada tanaman padi tidak dapat dikendalikan secara langsung, sehingga tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan jumlah wereng hijau yang dapat menularkan penyakit tungro ini. Adapun langkah-langkah terpadu untuk pengendalian penyakit tungro secara efektif dan efisien, antara lain meliputi :
1. Mengatur waktu tanam yang tepat
Waktu tanam sebaiknya disesuaikan dengan pola perkembangbiakkan dan pertumbuhan wereng hijau yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu. Waktu tanam diatur sehingga ketika jumlah wereng hijau meningkat dan sedang banyak-banyaknya,, tanaman padi sudah memasuki fase generatif (berumur 55 hari atau lebih). Hal ini dikarenakan serangan virus tungro yang terjadi pada fase tersebut tidak menimbulkan kerusakan parah.
2. Melakukan tanam serempak
Upaya menanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau sehingga risiko penularan tungro akan berkurang.
3. Menanam varietas tahan
Menggunakan varietas tahan sangat penting dalam usaha pengendalian penyakit tungro. Varietas unggul mampu mempertahankan diri penularan virus oleh wereng hijau, bahkan walaupun terserang virus, varietas tahan tidak akan mengalami kerusakan parah. Beberapa contoh varietas tahan yang dianjurkan antara lain: Tukad Patanu, Tukad Unda, Bondoyudo, dan Kalimas. IR-66, IR-72, dan IR-74.
4. Memusnahkan tanaman padi yang terserang virus tungro
Memusnahkan tanaman yang terserang merupakan tindakan yang sebaiknya dilakukan untuk membasmi sumber penularan (inokulum). Pemusnahan harus dilakukan secepat mungkin setelah ditemukan adanya gejala serangan virus tungro. Pemusnahan tanaman dapat dilakukan dengan cara mencabut seluruh tanaman sakit kemudian dikubur dalam tanah atau dibakar. Agar penyakit tungro hilang tuntas, sebaiknya pemusnahan tanaman dilakukan di seluruh area tempat tanaman terserang.
5. Pemupukan N yang tepat
Pemberian pupuk nitrogen (N) yang berlebihan dapat menyebabkan tanaman menjadi lemah, dan mudah terserang wereng hijau sehingga memudahkan terjadinya serangan virus tungro. Oleh karena itu, penggunaan pupuk N harus dilakukan berdasarkan pengamatan dengan Bagan Warna Daun (BWD) untuk mengetahui waktu pemupukan yang paling tepat. Pemberian pupuk N secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan tanaman akan mencegah risiko tanaman menyerap kandungan N secara berlebihan.
6. Penggunaan pestisida
Penggunaan pestisida untuk mengendalikan tungro bertujuan agar pembasmian wereng hijau pada area tanaman yang tertular tungro tidak menyebar ke pertanaman lain serta mencegah terjadinya penularan kepada tanaman yang sehat. Untuk mencegah penularan tungro dengan lebih efektif, dapat digunakan jenis insektisida sistemik butiran (carbofuran). Karena infeksi virus tungro dapat terjadi sejak di masa persemaian, sebaiknya dilakukan pencegahan dengan tidak membuat persemaian di sekitar lampu atau sumber cahaya untuk menghindari berkumpulnya wereng hijau. Penggunaan insektisida confidor pada persemaian hanya akan efektif menekan jumlah penyebaran wereng hijau jika pertanaman padi menerapkan pola tanam serempak.
Berbagai pengendalian penyakit tungro yang diuraikan di atas akan lebih berhasil jika dilakukan secara bersama-sama dalam hamparan area tanam yang luas, dan pengendaliannya dilakukan secepat mungkin ketika timbul gejala serangan. Hal ini dikarenakan apabila penyakit tungro diabaikan, maka hasil panen padi tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.
Sumber: epetanidesasawo.blogspot.com
Salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman padi di Indonesia adalah hawar pelepah dan busuk batang. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Rhizoctonia Solani. Penyakit ini biasanya mulai menyerang tanaman padi saat tanaman berada dalam fase anakan, atau berusia sekitar 30 hingga 45 hari. Hawar pelepah dan busuk batang ini mudah menyerang tanaman padi yang ditanam dengan jarak rapat, terutama pada varietas tanaman yang memiliki anakan padi dalam jumlah banyak. Selain itu, cara penanganan budidaya yang salah, pemupukan nitrogen (N) yang berlebihan, suhu dan kelembaban yang tidak tepat, serta pengelolaan drainase (saluran air) yang kurang baik juga akan mendukung penularan penyakit ini dengan lebih mudah.

Gejala:
- Timbulnya bercak berbentuk lonjong (oval) berwarna abu-abu kehijauan pada pelepah daun yang berada di dekat permukaan air sawah.
- Bercak-bercak tersebut mula-mula hanya berukuran sekitar 1 cm, namun lama kelamaan membesar hingga 2-3 cm dan akhirnya menyatu.
- Kumpulan bercak tersebut lalu menjadi tempat berkembangnya jamur atau cendawan yang awalnya berwarna putih atau krem (cokelat muda) hingga kemudian tumbuh dan berwarna cokelat tua kehitaman.
Jamur atau cendawan ini berisiko menular ke helai daun tanaman padi yang bersentuhan langsung hingga akhirnya menyebabkan tanaman padi terinfeksi. Maka dari itu, diperlukan tindakan pencegahan dan pengendalian yang tepat untuk menghindarkan dan mengurangi kerusakan pada tanaman padi yang terserang penyakit hawar pelepah dan busuk batang ini. Adapun langkah-langkah pengendalian yang dapat dilakukan, antara lain sebagai berikut:
1. Menggunakan varietas tahan
Saat ini terdapat beberapa jenis varietas tahan lokal yang cukup kuat terhadap serangan hawar pelepah dan busuk batang.
2. Melakukan penanganan budidaya yang tepat
Pembudidayaan tanaman padi yang tepat mencakup pengelolaan tanah, pemupukan seimbang, mengatur jarak tanam tidak terlalu rapat (sistem legowo), pengairan berselang-seling, dan lain-lain.
3. Menjaga kebersihan lingkungan (sanitasi) area tanam
Area penanaman padi harus dibersihkan dari gulma yang tumbuh di sekitar tanaman padi untuk mencegah penularan dan perkembangan jamur penyebab infeksi hawar pelepah dan busuk batang. Gulma yang diduga menjadi sumber infeksi jamur harus dicabut dan dapat dibakar atau dijadikan pupuk kompos agar benih jamur mati.
4. Melakukan pengendalian alami.
Pengendalian alami untuk menekan jamur penyebab hawar pelepah dan busuk batang adalah dengan menggunakan jamur Trichoderma yang merupakan jamur bersifat antifungal, atau dapat membunuh jamur lainnya.
5. Menggunakan pestisida
Penggunaan pestisida adalah langkah terakhir untuk mengendalikan serangan jamur penyebab penyakit hawar pelepah dan busuk batang. Pestisida yang digunakan adalah yang berjenis fungisida. Pemakaian pestisida ini harus diawali dengan pengamatan atau pengecekan tanaman padi saat berada dalam fase anakan maksimum.
Apabila langkah-langkah pengendalian yang diuraikan di atas sudah dilakukan, maka akan mengurangi risiko kerusakan pada tanaman padi yang terserang hawar pelepah dan busuk batang. Karena jika pengendalian yang dilakukan tidak tepat, hawar pelepah dan busuk batang dapat menyebabkan bulir biji padi tidak terisi sempurna sehingga mengurangi volume gabah dan tingkat produksi tanaman padi yang dihasilkan.
Sumber: nuansatani.com
Penyakit virus kerdil hampa dan kerdil rumput pada tanaman padi menyerang melalui penularan dari virus yang dibawa oleh hama wereng cokelat. Dengan demikian, cara pengendalian penyakit virus kerdil hampa dan kerdil rumput pada tanaman padi adalah melalui tindakan pencegahan penularan terhadap tanaman induk (inang) dan juga dengan menekan kehadiran sumber penularnya (hama wereng cokelat).

Tindakan pencegahan atau preventif terhadap tanaman inang (padi) dapat dilakukan dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan penanaman serempak
Penanaman serempak pada area tanam atau hamparan yang sama dapat mengurangi risiko serangan virus kerdil hampa dan kerdil rumput.
2. Melakukan rotasi tanam
Maksudnya adalah menggunakan tanaman lain selain padi seperti palawija pada area tanam atau hamparan yang sama secara bersamaan untuk memutus siklus hama dan penyakit.
3. Menghindari sumber infeksi atau penularan
Untuk menghindari sumber infeksi atau penularan, harus dilakukan sanitasi lahan dan pemusnahan tanaman yang terserang. Hal ini bertujuan untuk mengurangi dan menghilangkan sumber penularan dari sisa tanaman yang terserang sebelumnya dan juga dari gulma yang dapat menjadi sumber penularan infeksi.
4. Menggunakan varietas tahan.
Penanaman menggunakan benih atau bibit bebas virus dapat menghindari sumber infeksi. Varietas tahan virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang dapat digunakan adalah jenis yang sama dengan varietas tahan wereng coklat, antar lain varietas BB Padi (Inpari 13, Inpari 19, Inpar 31, Inpari 33) ataupun varietas Inpari 2, Inpari 13, IR42, dan Situ Bagendit yang juga mempunyai cukup tingkat ketahanan terhadap serangan penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput.

Sedangkan tindakan pengendalian penyakit virus kerdil melalui pengendalian terhadap wereng cokelat sebagai sumber penularan, antara lain adalah:
1. Mengatur jarak tanam.
Pengaturan jarak tanam dengan menggunakan sistem legowo dapat mengurangi kelembaban pada area pertanaman dan juga sekaligus mempermudah pengendalian wereng cokelat karena tingkat kelembaban yang rendah dapat mengurangi perkembangan jumlahi wereng cokelat.
2. Melakukan pemberian pupuk berimbang
Pemupukan sebaiknya dilakukan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan tanaman, karena pemupukan yang berlebihan terutama pupuk nitrogen (N) akan meningkatkan perkembangan wereng cokelat.
3. Menerapkan pengairan berselang-seling (intermittent)
Pengairan berselang-seling atau irigasi intermitten selain membantu mengurangi kelembaban juga akan mengurangi perkembangan jumlah wereng hingga 50%.
4.Melakukan pengamatan jumlah (populasi) wereng cokelat
Pengamatan harus dilakukan secara rutin pada area pertanaman. Untuk mengurangi jumlah serangan hama wereng, dapat memasang lampu perangkap untuk menjebak wereng cokelat yang hadir.
5. Menggunakan pestisida.
Pengendalian hama wereng cokelat sebagai pembawa virus kerdil hampa dan kerdil rumput menggunakan pestisida dapat diawali dengan menggunakan pestisida nabati atau alami seperti jamur pembunuh serangga Beauveria bassiana dan Metarhizium sp. Selain itu dapat juga menggunakan musuh alami wereng seperti serangga parasit telur Anagrus optabilis, Oligosita, Paracentrobia andoi, dan Elenchus yasumatsui, dan dapat juga dengan melepas laba-laba dan capung sebagai predator pemakan wereng. Apabila penggunaan pestisida alami di atas tidak berhasil, maka cara pengendalian terakhir yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Pymetrozine dan Dinotefuran. Namun hal ini sebaiknya dilakukan hanya apabila jumlah (populasi) wereng cokelat sudah mencapai ambang batas dan sulit dikendalikan.
Sumber: Litbang
Penyakit kresek atau biasa dikenal dengan nglaras atau hawar daun bakteri (HDB) adalah sebuah penyakit yang menyerang tanaman padi yang disebabkan organisme pengganggu tanaman (OTP), bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). OTP ini dapat mengakibatkan kerusakan tanaman dan menurunkan produksi. Bahkan, dalam serangan berat, dapat mengakibatkan terjadinya puso dengan kerugian hingga 70%. Serangan penyakit ini dapat terjadi pada fase bibit, tanaman muda hingga tanaman tua.

Penyakit ini menyebar lewat air, angin dan benih, serta infeksi terjadi melalui stomata. Perkembangan penyakit hawar daun bakteri (BLB)/kresek sangat dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah (20o– 220oC). Itu sebabnya pada musim hujan yang hari-harinya tertutup awan, penyakit berkembang sangat baik.
Selain itu penanaman dengan jarak tanam yang rapat, pemakaian pupuk nitrogen yang berlebihan yaitu > 300 kg urea/ha, dan pemakaian pupuk nitrogen tanpa fosfor (TSP) dan atau kalium (KCl) akan mendorong perkembangan penyakit tersebut.
Karena sangat merugikannya penyakit ini, maka petani harus sangat waspada dan harus melakukan tindakan pencegahan dan juga penanggulangan jika terjadi gejala-gejala yang ditimbulkan.
Gejala:
- Tanda awal serangan penyakit ini adalah pucuk daun menguning, kemudian menjalar melalui pinggir daun hingga ke pangkal.
- Pada serangan berat, daun padi akan tampak mengering.
- Serangan berat dapat terjadi hanya dalam waktu 30 hari, dan padi menjadi kering serta mengakibatkan puso.
- Penyakit-penyakit hawar pelepah dan busuk batang menyebabkan tanaman mudah rebah sehingga sangat mengganggu proses pengisian gabah.
- Ciri khas dari serangan HDB adalah daun yang kering tapi tulang daunnya masih kelihatan segar.
Pencegahan & Pengendalian:
- Menggunakan benih yang sehat.
- Perendaman benih menggunakan larutan Corynebacterium dosis 5-10 cc/liter air selama kurang lebih 30 menit.
- Tidak memotong ujung daun pada bibit yang ditanam.
- Penggunaan pupuk organik dan pupuk berimbang.
- Mengurangi dosis pupuk N, terutama dari golongan amida (UREA).
- Tidak menggunakan benih dari tanaman yang terserang.
- Penyemprotan menggunakan Corynebacterium secara berkala sebelum terjadinya serangan.
- Penyemprotan menggunakan Corynebacterium secara berkala pada tahap awal terjadinya serangan.
Sumber: Elmupertanian



